Tampilkan postingan dengan label Puisi puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Desember 2008

Pelarian Pertama

Aku berlari ke arah timur matahari mencari pertanda tentang cahaya, membuat peta sendiri dengan tangan dan kaki.. seperti ribuan tahun lalu ketika perempuan memaki anaknya sendiri... seperti itu juga telah kukemas air mata sebagai bekal pertama membaca garis keajaiban pada telapak tangan dan isyarat alam sebagai naluri petualang... inilah pelarian pertama atas semua yang pernah lahir tumbuh dalam sumsum sebagai pertanda hidup memang ada.

.-desember akhir di 2008- Untukmu nun jauh disana

Anakku [......]

Maafkan perempuan yg sekiranya akan kau sebut ibu…

Tidak memberimu hidup dan nafas spt hakikatnya manusia….

Terpaksa ku bunuh waktu bagimu….

Kesempatan terpaksa tidak kuberikan bukan karena apa2

Tapi karena kesombongan lelaki yang meniduriku…..

Dia pergi…

Memberi sebongkah luka yang melumatku



Anakku…

Dengar janji ibu….

Tidak disini aku menimangmu…

Tapi nanti saat ajal dengan dosa bergelung datang…

Aku akan menghampirimu di surga

Setelah kusucikan jiwa d neraka jahanam….

Akan ku buai hati kanak kanakmu

Dngan cinta….

Dan suatu saat nanti akan

Ku tunjukan lelaki yang membunuhmu

Dengan kesombongannya….


Anakku..

Bilang pada allah

Ibu titip salam dan ingin segera berkumpul denganmu dsana…

Amanah ini kupercayakan padamu

Karna aku tahu kau dekat dari padanya…

Dan kau menghamba padanya



Tentangmu ?


malam datang
memeluk keseluruhan hidup
tak ada sapa
tak ada tawar menawar
tiba - tiba luruhlah jiwa

pagi berganti
asa……..
kalbu……
masih sama saja
dan aku tak bisa mengubah apapun tentangmu

Hiks [....... ]

aku tak perlu risau
kaki langit masih jauh di ujung cakrawala
meski angin, ombak, karang
sesekali menghadang

aku masih punya arah
aku masih punya darah
aku masih punya gairah
dan aku bersepakat dalam hati mengayuh biduk sampai di batas angan

#1

mengapa kau mengutuk keberadaanya

sama seperti kau menelantarkan aku

dalam jengah yang sial…..

tidak sepikah kau disana dalam keheningan dosa???

padahal dia datang memberimu secercah nilai hidup….

aku tak ingin kau lari dalam sesal nanti

karna kau membuang percuma kami….

sia yang kejam namanya…….

apa yang kau punya sekarang??

harapan jahanammu akan merobek-robek dirimu sendiri

bukan sumpah…

hanya bentuk kesahku yang membabi buta dalam haru yang biru

sepeninggalan kisah kita

aku belajar tentang janji primodial

yang suatu saat nanti tak harus kupercaya lagi

sekarang aku larut dalam hening yang panjang….

mengukur berdepak-depak lalu yang hina….

tentang kamu yang mengurai asa bersama

gadis berambut sebahu itu…

mudah-mudahan mencapai klimaks yang

hitam…..

lalu mati dipelukan malam….

Allah…sedemikian rupa cintaku

sampai aku menghujat seperti ini…

maka ampunilah aku….